Mejuah-juah.     Selamat datang di laman sederhana kami: "Gereja Injili KARO Indonesia".   Gereja Injili Karo Indonesia atau disingkat GIKI, adalah gereja yang mengintegrasikan Injil dan budaya lokal(Karo), dengan mengembangkan sentralitas, sakralitas, dan ritualitas iman.  Syaloom - Mejuah-juah. Tuhan Yesus Memberkati. 2K(Kristus dan Karo): Kami mencintai Kristus dan Karo, kami menyembah Kristus dengan budaya Karo.&nb:-)  
Tampilkan postingan dengan label gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 November 2013

Pengakuan Iman Rasuli dalam bahasa Karo


 Pengakun Kiniteken Kalak Kristen / 
Pengakuan Iman Rasuli

·        Aku tek man Dibata Bapa Si la ersibar kuasaNa, Si nepa langit ras doni.
·        Aku tek man Yesus Kristus AnakNa Si Tonggal, Tuhanta, si jadi arah Kesah Si Badia, tubuh idus singudanguda nari si so keliamen, tergelar si Maria, si ngenanami keniseran paksa pemeréntahen Pontius Pilatus, nipakuken ku kayu persilang, maté, jenari ikuburken, nusur ku doni kematén, petelu wariken enggo kéké i bas si maté nari, nangkih ku Surga, perkundulNa arah kemuhen Dibata, jenari reh me Ia pepagi guna ngerananken si nggeluh ras si nggo maté.
·        Aku tek man Kesah Si Badia, janah lit sada Geréja Si Badia, persadan kalak si Badia, pengalemi dosa, kinikékén kula, ras kegeluhen si rasa lalap. A m i n.

- Sepuluh Keyakinan Iman - Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI)
- Doa Bapa Kami dalam bahasa Karo




Sepuluh Keyakinan Iman Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI)

Sepuluh Keyakinan Iman
Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI)

1.   Kami percaya bahwa Yesus Kristus dari Nazaret adalah Mesias dan Anak Allah yang hidup yang lahir ke dunia melalui perawan Maria, menderita dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati, naik ke surga dan akan datang pada waktunya untuk menghakimi dunia ini. (Matius 16:16, 1, 26 – 28, dan Pengakuan Iman Rasuli)

2.   Kami percaya bahwa Allah Bapa adalah Allah, Allah Putra(Yesus Kristus) adalah Allah, dan Allah Roh Kudus adalah Allah. Allah Tritunggal adalah Allah dalam tiga pribadi yang berbeda. (Yohanes 10:30, 17:21, I Korintus 1:3, Matius 28:19)

3.   Kami percaya bahwa Alkitab yang terdiri dari 66 kitab adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah; yang harus menjadi pedoman iman dan pedoman prilaku bagi setiap orang percaya. ( II Timotius 3:16, II Petrus 1:21, Yohanes 10:35, I Korintus 1:21, Matius 5:17 – 18, Efesus 1:17 – 18)

4.   Kami percaya bahwa gereja adalah kumpulan orang-orang percaya yang telah menerima anugrah keselamatan di dalam Yesus Kristus dan yang dengan tekun dan setia menantikan kedatanganNya yang kedua kali sembari memberitakan InjilNya dan hidup menurut FirmanNya. (Efesus 1:1 – 4, 2:10, 6:11 – 20)

5.   Kami percaya bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang luar biasa untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dan sampai pada saat ini, Injil tetap relevan untuk diberitakan dan menjadi tugas utama gereja untuk memberitakannya kepada dunia ini. (Roma 1:16 – 17, Filipi 1:5)

6.   Kami percaya bahwa kebudayaan adalah buah pikir Manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, sehingga di dalam kebudayaan itu terdapat unsur-unsur ilahi. Bersamaan dengan itu, kebudayaan juga adalah ciptaan Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, sehingga di dalam kebudayaan itu mungkin saja terdapat unsur-unsur setani. Oleh karena itu, kami menolak unsur setani dan menerima unsur ilahi yang terdapat di dalam kebudayaan.
Kami tidak antiadat, tidak antitradisi, atau tidak antibudaya, tetapi kami juga tidak menyembah adat, tradisi, atau budaya. Kami menerima adat, tradisi, atau budaya untuk memuliakan Tuhan Yesus Kristus dan untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik. (Injil Matius, Markus 7:8 – 9, 13, Kejadian 4:21 – 22, I Korintus 9:19 – 23, Filipi 2:5 – 7, II Korintus 4:5)

7.   Kami percaya bahwa babtisan adalah kelanjutan dari sunat di Perjanjian Lama yang diperintahkan Allah untuk menjadi tanda milikNya. Oleh karena itu, setiap orang yang percaya kepada Kristus wajib dibabtiskan dengan air di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Rohul Kudus. Kami menerima bahwa sebagian gereja melakukannya dengan percik dan sebagian lagi melakukannya dengan selam, tetapi kami tidak bias menerima babtisan yang diulang. (Kejadian 17, Matius 3:15 – 16, 28:19)

8.   Kami percaya bahwa Perjamuan Kudus adalah panggilan Tuhan Yesus Kristus untuk menyatu denganNya dan menyatu dengan saudara seiman lainnya. Kami percaya bahwa roti dan anggur perjamuan yang disajikan adalah sungguh-sungguh gambaran tubuh dan darah Yesus Kristus yang diterima dengan iman. Oleh karena itu, kami tidak memperkenankan orang yang tidak percaya untuk menerima roti dan anggur perjamuan tersebut. (Markus 14:22 – 25, I Korintus 11:17 – 34)

9.   Kami percaya bahwa Alkitab menghargai orang percaya yang memantangkan makanan tertentu dan juga menghargai orang percaya yang tidak memantangkan makanan apapun. Oleh karena itu, kami pun dapat menerima orang percaya yang memantangkan makanan tertentu atau orang percaya yang tidak memantangkan makanan apapun. (I Korintus 8:8, 13, Matius 15:17)

10.                Kami percaya bahwa setiap orang percaya sudah menerima karunia dan talenta dari Allah, tetapi karunia dan talenta setiap orang berbeda-beda. Oleh karena itu, kami mengakui dan menghargai adanya karunia yang berbeda-beda di tengah-tengah gereja yang tujuannya adalah satu, yaitu: untuk memuliakan Yesus Kristus dan untuk membawa damai sejahtera bagi sesama orang percaya. (Roma 12:6 – 8, Efesus 4:7, I Korintus 12:4 – 11)


Sumber: Piagam Kebenaran Yang Kami Yakini (KYKY) -
 Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) tahun 1993.

- Doa Bapa Kami dalam bahasa Karo
- Pengakuan Iman Rasuli dalam bahasa Karo.


Doa Bapa Kami dalam Bahasa Karo


Pertoton Tuhan / Doa Bapa Karo

O, Bapa kami si ni Surga, gelarNdu ipebadia min, reh min kinirajanNdu, seh lah min peraténNdu ibas doni énda bagi ni Surga. Beréken man kami nakan cukup ibas wari si sendah énda. Alemi salah kami, bagi nialemi kami salah kalak empak kami. 
Ola min kami ibaba Kam kubas percuban, tapi olangilah kami idur si ilat nari; sabab Kam kap si mada Kinirajan, ras kuasa, ras kemulian sindekah-ndekahna. A m i n.

Senin, 07 Oktober 2013

Pentahbisan Pengerja GIKI Medan

Pengerja GIKI Medan yang ditahbiskan
Pengerja GIKI Medan
          GIKI Medan. Minggu, 6 Oktober 2013. Ada yang berbeda dari biasanya di GIKI Medan, dimana Minggu[6/10] ini seluruh pengerja yang sebelumnya telah dipilih[20/7] akan ditahbiskan; para pengerja yang dipilih dan ditahbiskan ini adalah mereka yang selama ini telah aktif melayani sebagai aktifis dan relawan di GIKI Medan.
         
          Acara pentahbisan diawali dengan ibadah Minggu; seperti biasanya yang dilaksanakan Pukul 16.00 wib – selesai dengan pengkhotbah Pdt. Jeremia A. S. Brahmana, S.Th; merupakan pendeta jemaat di GIKI Medan, WL: Juli Herawati Br. Ginting, S.Th.(Nora Pendeta Brahmana), musik: Cipta Gloria Sembiring, serta singer: Lita Br. Sembiring dan Monika Br. Sinulingga. Dalam khotbahnya yang berjudul “Damai Sejahtra Dalam Rancangan Tuhan” mengambil nats Alkitab dari Roma 8 :28 – 35 pengkhotbah menekankan bahwa ‘rancangan Tuhan adalah indah adanya dan adalah rancangan keselamatan(damai sejahtra), bukan rancangan maut bagi setiap orang yang percaya. Dan, kita yang telah dipilihNya untuk menjadi milikNya teruslah hidup dalam FirmanNya dan bersedia untuk dipakai bagi kemuliaaNya agar kita terus dilayakkan untuk menikmati damai sejahtra yang hanya ada padaNya.’

          Ibadah Minggu berjalan dengan lancar, walau sempat turun hujan deras melanda Kota Medan. Puji Tuhan pemadaman listrik yang sering terjadi di Sumatera Utara akibat krisis daya tidak terjadi di Minggu sore itu. Selesai ibadah Minggu, acara dilanjutkan dengan pengtahbisan pengerja GIKI Medan. Adapun pengerja yang ditahbisakan, yakni: Rakat Ginting(Bp. Dody), Arnem Tarigan, Bastanta P. Sembiring, Agustina Br. Ginting(Nd. Ina), Ngikut Br. Sembiring(Nd. Gunawan), dan Sari Br. Tarigan(Nd. Ari) dan dilanjutkan dengan acara perjamuan kasih(makan bersama) dengan seluruh pengerja, aktifis, jemaat, serta undangan yang hadir.

          Selesai acara perjamuan kasih, seperti biasa di Minggu malam selesai Ibadah Raya pengerja dan aktifis GIKI Medan melakukan sermon. Sebelum masuk ke pembicaraan yang hendak dibahas, pengerja dan aktifis terebih dahulu mendiskusikan bahan persekutuan sektor sesuai dengan Buku Pedoman Persekutuan Sektor yang telah disediakan oleh Sinode.

Pengtahbisan Pengerja GIKI Medan
Pengtahbisan Pengerja GIKI Medan
Sermon malam itu membicarakan beberapa topik sermon sebelumnya[29/9] yang belum tuntas, seperti rencana Tim PI GIKI Medan untuk mengadakan Safari Rohani Riau Jilid II[14-18/10], Pengtahbisan Majelis Pengerja GIKI Medan[3/11], Natal di GIKI Medan dan KKR Natal di Patumbak, serta topik-topik baru seperti: adanya keinginan GIKI Medan dan Simpatisan GIKI di wilayah Riau yang dikordinir oleh Pdt. Herico W. Sitepu untuk mengadakan natal bersama masyarakat Karo se-provinsi Riau. Dan, Puji Tuhan, dari hasil pembicaraan Pdt. Brahmana dengan Ketua Sinode GIKI Pdt. Edi Suranta Ginting via ponsel, beliau(esg-red) sangat mendukung rencana GIKI Medan ini dan menyatakan kesediaanya untuk dapat hadir pada KKR GIKI di Pekanbaru yang seyogianya akan diadakan pada 15 Oktober 2013. (bps/@simbisa_366)

           Majelis Pengerja GIKI Medan


Jumat, 16 Agustus 2013

GIKI Patumbak


GEREJA INJILI KARO INDONESIA ( GIKI)

-      Anggota PGLII (Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia)
-      SK. Dir. Jen. Bimas Kristen Dep. Agama R. I. No. : DJ.III/Kep/HK.00.5/3726/2003
-      SK. Kanwil Dep. Agama Jawa Barat No. : Wi/BP.020/Ket/118/1992


GIKI (Gereja Injili Karo Indonesia)
Mejuah-juah.
T U H A N   Y E S U S
Si Masu-masu
Gereja Injili Karo Indonesia

GIKI Medan:
Sekretariat: Jl. Djamin Ginting Km. 10,5 No. 48 
Pokok Mangga - Padang Bulan, Medan.
Khusus Patumbak:
Jl. Pertahanan IV, Dsn. IV Kuta Karo - Sigara-gara,
Patumbak, Deli Serdang.


Selasa, 09 Juli 2013

Menghormati Perintis Jalan : Renungan Untuk Buluh Awar

Oleh: Pdt., Drs. Edi Suranta Ginting, M. Th., M. Div.
---------------------------------------------
Gereja Zending di Buluh Awar yang kini dijadikan Museum oleh GBKP
Museum GBKP Buluh Awar
Tuhan Allah memberikan hukum suci dan sempurna kepada bangsa Israel di Gunung Sinai. Hukum-hukum yang kemudian dikenal sebagai Hukum Taurat itu bersifat mengikat bagi setiap umat Tuhan. Salah satu hukum itu ialah ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Ul. 5: 16)’.

Kata menghormati menunjukkan sikap yang menghargai atau menjaga wibawa orang yang dihormati. Ayah dan ibu adalah jelas orangtua kandung. Akan tetapi, dalam konteks pembahasan ini, saya menafsirkan bahwa orangtua ialah orang yang lebih tua, pemimpin, atau para pendahulu. Tafsiran ini dimungkinkan dengan berbagai ajaran Alkitab bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua atau menghormati para pendahulu.

Salah satu contoh menarik tentang menghormati pemimpin ialah kasus Harun dan Miryam ketika mereka mengata-ngatai Musa yang mengambil perempuan bukan dari orang Israel (Bilangan 12). Perbuatan mereka yang termasuk kategori ‘pembunuhan karakter’ itu bertentangan dengan kehendak Allah dan Allah menghukum mereka dengan keras.

Jadi, kasus Miryam dan Harun haruslah menjadi contoh bagi kita bagaimana kita bersikap dan berlaku terhadap para pemimpin atau para pendahulu yang sudah lebih dahulu merintis jalan bagi kehidupan iman kita.

Satu contoh lagi tentang menghormati para perintis jalan. Sekali waktu, saya melaporkan hasil studi literatur tentang Fransiskus Asisi. Dua hal yang saya sampaikan kepada penguji saya tentang Fransiskus ialah tindakannya memecat kepala biara di Paris karena biara itu mengajarkan filsafat dan teologi kepada biarawan dan kepergian Fransiskus ke Mesir bersama dengan rombongan pasukan perang salib. Penguji saya, seorang romo Fransiskan bergelar profesor, keberatan dengan dua hal tersebut. Kesan saya, beliau kuatir timbul kesan bahwa Fransiskus anti terhadap filsafat dan teologi serta pendukung perang salib. Pembimbing saya mengambil jalan tengah dengan menghapuskan dua bagian itu dari hasil studi literatur saya.

Dari contoh ini saya belajar bahwa kebenaran masih ditempatkan di dalam kebaikan, yaitu sikap menghormati para perintis jalan. Walaupun bergelar profesor, pembimbing saya masih lebih dikendalikan oleh sikap hormatnya kepada pendahulunya.
Pietisme adalah gerakan kesalehan yang lahir di Jerman pada abad ke-17 dan berkembang pesat pada abad-abad berikutnya. Pada abad ke-19 Gerakan Pietisme mencapai puncaknya dengan menjadikan abad itu sebagai abad penginjilan. Gerakan ini berhasil mengutus para penginjilnya ke pedalaman Afrika dan pedalaman Asia. Tokoh-tokoh besarnya ialah William Carey yang pergi ke India, Hudson Taylor pergi ke pedalaman China, David Livingstone pergi ke Afrika. Ke Indonesia, gerakan ini muncul melalui pribadi-pribadi yang bersemangat memberitakan Injil. Di Surabaya ada Bapak Emde, di Semarang Nyonya Philip Oostroom, dan di Jawa Barat Mr. Anthing. Setelah mereka datanglah para misionaris seperti Joseph Kam ke Ambon,  Yohanes Riedel ke Minahasa, Nommensen ke Batak(Tapanuli), dan H.C. Kruyt ke Karo, dan lain-lain.

Saya bahkan berpendapat bahwa kekristenan di Indonesia adalah buah pelayanan pribadi-pribadi yang dipengaruhi oleh semangat pietisme dan diteruskan oleh para misionari pietisme (yang kurang begitu terikat pada lembaga negara dan gereja dan lebih menekankan aspek individualisme), dan akhirnya diteruskan oleh lembaga gereja bukan oleh negara dan juga bukan oleh gereja negara.

Di kemudian hari, orang-orang Kristen hasil pelayanan misionari pietisme memberikan penilaian kritis terhadap pietisme. Dalam pengamatan saya, paling tidak ada dua aspek yang mendapat penilaian. Satu, pandangan teologis pietisme yang dipandang terlalu vertikalistis atau lebih mengutamakan aspek rohani dan kurang memedulikan aspek sosial kemanusiaan. Kedua, keterlibatan atau pandangan teologis terhadap kolonialisme.  Yang berkaitan dengan kolonialisme ialah anggapan bahwa sebagian misionari pietisme adalah kaki tangan kolonialisme atau pelayanan mereka adalah bagian dari kebijakan pemerintah kolonial.

Apakah patut memberikan penilaian kritis terhadap para misionari pietisme yang telah berjasa memberitakan Injil keselamatan itu kepada orang Indonesia? Saya ingin menyampaikan beberapa pendapat saya tentang penilaian terhadap para perintis Injil ke Indonesia, khususnya kepada suku Karo.

Satu, setiap tindakan pasti didorong oleh beberapa motivasi. Kalau saya pergi ke Buluh Awar maka beberapa motivasi saya ialah untuk melihat tempat istimewa itu, untuk bertemu dengan teman saya di sana, untuk makan durian, untuk rekreasi, dan lain-lain. Kalau orang yang menghormati saya memberikan pandangan tentang kunjungan saya ke Buluh Awar maka mereka akan mengatakan bahwa saya ke Buluh Awar untuk menunjukkan penghormatan terhadap para misionari perintis jalan. Akan tetapi, saya tidak bisa memaksa orang lain mengatakan bahwa tujuan saya ke Buluh Awar hanya untuk mancari sensasi dan popularitas pribadi.

Dua, menilai dengan sikap hormat. Gereja pada rentang waktu 500—1500 disebut dengan dua istilah. Satu, gereja abad pertengahan dan kedua, gereja abad kegelapan. Gereja abad pertengahan adalah sebutan dari gereja sendiri, sedangkan gereja abad kegelapan adalah sebutan dari kaum humanis yang mengecam dominasi gereja terhadap kehidupan. Menurut saya, sebagai anak gereja, kita lebih tepat mengikuti sebutan gereja daripada sebutan kaum humanis antigereja. Dengan menerima sebutan gereja, maka kita sudah menunjukkan sikap hormat kita kepada para perintis jalan Tuhan.  Demikian pula dengan para misionari yang datang ke Karo. Tidak bisa disangkal bahwa mereka memiliki kekurangan dan kelebihan. Akan tetapi, kalau kita menghormati mereka, maka yang kita tonjolkan ialah kelebihan mereka dan kekurangan mereka akan menjadi pelajaran saja untuk tidak diulang kembali dan bukan untuk ditonjolkan.

Tiga, seandainya mereka orangtua kita. Apakah kita bisa kritis terhadap orangtua sendiri? Kalaupun ada, jumlahnya hanya sedikit. Budaya kita mengajarkan supaya kita menghormati orangtua dan tidak menjelek-jelekkan orangtua di depan umum. Salah satu contoh sederhana. Saya menulis riwayat hidup seorang ibu. Ibu ini menceritakan kelemahan suaminya yang adalah kelemahan umum masyarakat Karo. Oleh karena itu, saya pun menuliskan seperti yang dituturkan sang ibu. ketika draft buku dibaca oleh anak-anaknya, maka semua anak-anak protes. Yang mereka kuatirkan ialah timbulnya kesan negatif terhadap ayah yang mereka hormati. Oleh karena itu, bagian itu dihapuskan. Saya kira, begitu jugalah sikap yang tepat ketika kita menilai para perintis jalan Tuhan, para misionari yang datang mengorbankan segala-galanya untuk keselamatan orang Karo.

Empat, penilaian kritis bukanlah budaya orang Timur dan orang Karo melainkan budaya masyarakat Barat. Kita terlatih melihat kelebihan seseorang apalagi bila orang itu adalah orang terhormat atau memiliki kedudukan penting di tengah masyarakat. Ayah saya suka menceritakan kebaikan kakek saya, ayahnya. Saya ingat tentang kerajinan kakek saya. Dari orang lain, saya dengar juga bahwa kakek saya memiliki kebiasaan buruk, tetapi saya tidak menyimpan hal itu di dalam pikiran saya. Menurut saya, cara pandang orang Karo sama seperti ajaran Alkitab. Salah satu contoh. Daud mengatakan bahwa dirinya tidak diizinkan Allah mendirikan Bait Allah karena tangannya penuh darah. Ketika Salomo mengatakan hal yang sama, maka pernyataannya berbeda. Salomo mengatakan bahwa ayahnya tidak mendirikan Bait Allah karena sedang berperang dan banyak musuh-musuhnya. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap orangtua dalam budaya Asia atau Ibrani.

Setelah seratus tahun lebih orang Karo menerima Injil dan Buluh Awar sebagai tempat pertama yang menerima Injil masih sama dengan tempat-tempat lainnya. Jangan-jangan, pengabaian atau yang lebih tepat lagi ‘pembiasaan’ (membiarkannya biasa) terhadap Buluh Awar karena sikap kritis  terhadap para perintis jalan Tuhan tersebut.  Kalau kesan saya ini benar, maka kita harus mengubah pandangan teologis kita. Sesuai dengan ajaran Firman Tuhan dan juga sesuai dengan nilai-nilai budaya Karo, kita patut menghormati para perintis jalan, yaitu para misionari pertama dan sekaligus juga menghormati tempat pertama Injil diberitakan. Mari kita renungkan kembali sikap kita. Supaya panjang umur kita dan berhasil hidup kita, maka kita harus menghormati para perintis jalan, yaitu para misionari pertama dahulu. (esg)


Minggu, 17 Maret 2013

Agenda GIKI

          Berikut agenda Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI) baik secara Sinode, terkhususnya GIKI Medan dan Persekutuan GIKI Patumbak yang sedang, ataupun akan(belum) berlangsung.


Acara tahun 2015

  • PTS(Persekutuan Tingkat Sinode) GIKI 2015[28/6/2015] di Bandung.
  • Seminar Keluarga Kristen, "Menanggulangi Prostitusi Pada Anak, Begalisme dan Narkoba. 9 Mei 2015 di Bandung.
  • Gendang Guro-guro Aron GIKI Cimahi(9 Mei 2015).

Daftar acara(agenda) di-tahun 2013 - 2014
  • Rapat Kordinasi dan Sidang Majelis Pengerja GIKI Medan I, Senin - Selasa (13-14/01) 2014, waktu dan tempat akan ditentukan.
  • Ibadah dan ramah tamah tahun baru 2014, Minggu 5 Januari 2014, Pkl. 15.00 wib di Sekretariat.
  • Ibadah Tutup dan Buka Tahun (2013 - 2014), Pkl. 00.00 wib dilaksanakan di tempat masing-masing.
  • Ibadah Natal Umum, Rabu 25 Desember 2013, Pkl. 09.00 wib di GIKI Medan
  • Natal GIKI Medan, Senin 9 Desember 2013, Pkl. 15.00 wib di Sekretariat GIKI Medan.
  • Minggu, 3 November 2013: Pentahbisan Majelis Pengerja GIKI Medan, Pentahbisan Pos PI GIKI Medan menjadi GIKI Jemaat Medan, Pentahbisan Pengerja Khusus(Evanglis) untuk Patumbak dan Kabantua, Babtisan Anak, Ngawan/Sidi, serta Perayaan Ulang Tahun GIKI Medan - Pokok Mangga ke- 2 di Sekretariat GIKI Medan (Pokok Mangga). 
  • KKR GIKI Medan di Pekan Baru(Oktober 2013 di Jambur Peranginangin Jl. Caltex By Pass Muara Fajar, Pekan Baru, Riau.)
  • Minggu, 6 Oktober 2013: Pentahbisan Pengerja GIKI Medan di Sekretariat GIKI Medan Jl. Letjend. Djamin Ginting Km. 10,5 No. 48 Pokok Mangga - Padang Bulan, Medan.
  • Sabtu, 21 September 2013. Pertemuan(rapat kordinasi) MP GIKI se-Sumbagut di GIKI Sukarame, Kec. Munthe, Kab. Karo, Sumut..
  • Senin - Jumat(5-9/8). Evanglisasi Tim PI GIKI Medan ke wilayah Riau(Minas, Ukui, Pekanbaru, Sei Kijang, Sungai Renangan(Toro Dolik), dll.
  • Selasa 25 Juni 2013 Napak Tilas Penginjil Pertama ke masyarakat Karo yang dilaksanakan mulai dari Buluh Awar sampai ke Barus Jahe. Dengan 3 pembagian rute: (1) rute pendek, (2) rute sedang, dan (3) rute panjang.
  • Rabu, 26 Juni 2013 Pelayanan Sosial: Seminar HIV/AIDS yang dibawakan oleh: dr. Veranita Pandia, M. Kes., Sp. K. J.(tim HIV/AIDS RS. Hasan Sadikin), serta membersihkan Kota Kabanjahe(masih dalam kajian).
  • Kamis, 27 Juni 2013 Ibadah Tabur Benih, Ibadah Tolak Bala, Ibadah Pesakh keliling Kabanjahe untuk kelepasan Tanah Karo dan doa bersama yang dipusatkan diempat titik di Kabupaten Karo(Lau Dah, Simpang Empat, Tiganderket, dan Tiga Baru)dari bencana alam, dari hama tanaman, dari penyakit sosial, dan dari berbagai kemiskinan.
  • Jumat, 28 Juni 2013 Peringatan HUT GIKI ke-21 yang direncanakan dirayakan dengan nuansa Karo. 
  • Kursus Calon Penginjil yang diadakan oleh GIKI(Gereja Injili Karo Indonesia) direncanakan diadakan pada bulan April 2013 di Medan. Saudara yang terpanggil untuk menjadi penginjil silakan mendaftar ke pengerja GIKI setempat.

Pesekutuan Perpulungen Patumbak diadakan setiap Kamis, pukul 19.00 wib(jam 7 malam) bertempat di: Jl. Perjuangan IV Dusun IV(Kampung Karo) no. 71, Desa Sigara-gara, Kec. Patumbak, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara. Dilayani oleh: Pdt. Jeremia S. Brahmana dan Arnem Tarigan. Syaloom - Mejuah-juah.


Bertumbuh Dalam Iman
Bersama: Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI)
Mejuah-juah. Tuhan Yesus Si Masu-masu.


Selasa, 26 Februari 2013

Tentang GIKI

Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI)
Logo GIKI


Nama: Gereja Injili Karo Indonesia; Disingkat: GIKI; Klasifikasi: Gereja Injil; Aliran: Injil; Berdiri: 27 Juni 1992 murni dari kerinduan beberapa pemrakarsa terhadap pengkabaran injil, khususnya bagi masyarakat Karo; Dinominasi: Suku Karo; Pimpinan gereja: Ketua Majelis Sinode; Situs web: http://gikiindonesia.blogspot.com ;  Fun Page GIKI , http://giki-online.blogspot.com ; Alamat Sinode: Jawa Barat.



Gereja Injili Karo Indonesia atau disingkat dengan GIKI adalah gereja yang mengintegrasikan injil dengan budaya lokal, yang mengembangkan sentralitas(gereja sebagai pusat kehidupan), sakralitas, dan ritualitas iman. Injil adalah keyakinan teologis yang dianut oleh GIKI, sedangkan Karo dipandang sebagai suku(bukan sub-suku) yang sebagai objek utama dalam penginjilan GIKI, sehingga nama gereja ini kemudian dinamakan Gereja Injili KARO Indonesia yang disingkat GIKI. Mejuah-juah.