Mejuah-juah.     Selamat datang di laman sederhana kami: "Gereja Injili KARO Indonesia".   Gereja Injili Karo Indonesia atau disingkat GIKI, adalah gereja yang mengintegrasikan Injil dan budaya lokal(Karo), dengan mengembangkan sentralitas, sakralitas, dan ritualitas iman.  Syaloom - Mejuah-juah. Tuhan Yesus Memberkati. 2K(Kristus dan Karo): Kami mencintai Kristus dan Karo, kami menyembah Kristus dengan budaya Karo.&nb:-)  

Selasa, 09 Juli 2013

Menghormati Perintis Jalan : Renungan Untuk Buluh Awar

Oleh: Pdt., Drs. Edi Suranta Ginting, M. Th., M. Div.
---------------------------------------------
Gereja Zending di Buluh Awar yang kini dijadikan Museum oleh GBKP
Museum GBKP Buluh Awar
Tuhan Allah memberikan hukum suci dan sempurna kepada bangsa Israel di Gunung Sinai. Hukum-hukum yang kemudian dikenal sebagai Hukum Taurat itu bersifat mengikat bagi setiap umat Tuhan. Salah satu hukum itu ialah ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Ul. 5: 16)’.

Kata menghormati menunjukkan sikap yang menghargai atau menjaga wibawa orang yang dihormati. Ayah dan ibu adalah jelas orangtua kandung. Akan tetapi, dalam konteks pembahasan ini, saya menafsirkan bahwa orangtua ialah orang yang lebih tua, pemimpin, atau para pendahulu. Tafsiran ini dimungkinkan dengan berbagai ajaran Alkitab bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua atau menghormati para pendahulu.

Salah satu contoh menarik tentang menghormati pemimpin ialah kasus Harun dan Miryam ketika mereka mengata-ngatai Musa yang mengambil perempuan bukan dari orang Israel (Bilangan 12). Perbuatan mereka yang termasuk kategori ‘pembunuhan karakter’ itu bertentangan dengan kehendak Allah dan Allah menghukum mereka dengan keras.

Jadi, kasus Miryam dan Harun haruslah menjadi contoh bagi kita bagaimana kita bersikap dan berlaku terhadap para pemimpin atau para pendahulu yang sudah lebih dahulu merintis jalan bagi kehidupan iman kita.

Satu contoh lagi tentang menghormati para perintis jalan. Sekali waktu, saya melaporkan hasil studi literatur tentang Fransiskus Asisi. Dua hal yang saya sampaikan kepada penguji saya tentang Fransiskus ialah tindakannya memecat kepala biara di Paris karena biara itu mengajarkan filsafat dan teologi kepada biarawan dan kepergian Fransiskus ke Mesir bersama dengan rombongan pasukan perang salib. Penguji saya, seorang romo Fransiskan bergelar profesor, keberatan dengan dua hal tersebut. Kesan saya, beliau kuatir timbul kesan bahwa Fransiskus anti terhadap filsafat dan teologi serta pendukung perang salib. Pembimbing saya mengambil jalan tengah dengan menghapuskan dua bagian itu dari hasil studi literatur saya.

Dari contoh ini saya belajar bahwa kebenaran masih ditempatkan di dalam kebaikan, yaitu sikap menghormati para perintis jalan. Walaupun bergelar profesor, pembimbing saya masih lebih dikendalikan oleh sikap hormatnya kepada pendahulunya.
Pietisme adalah gerakan kesalehan yang lahir di Jerman pada abad ke-17 dan berkembang pesat pada abad-abad berikutnya. Pada abad ke-19 Gerakan Pietisme mencapai puncaknya dengan menjadikan abad itu sebagai abad penginjilan. Gerakan ini berhasil mengutus para penginjilnya ke pedalaman Afrika dan pedalaman Asia. Tokoh-tokoh besarnya ialah William Carey yang pergi ke India, Hudson Taylor pergi ke pedalaman China, David Livingstone pergi ke Afrika. Ke Indonesia, gerakan ini muncul melalui pribadi-pribadi yang bersemangat memberitakan Injil. Di Surabaya ada Bapak Emde, di Semarang Nyonya Philip Oostroom, dan di Jawa Barat Mr. Anthing. Setelah mereka datanglah para misionaris seperti Joseph Kam ke Ambon,  Yohanes Riedel ke Minahasa, Nommensen ke Batak(Tapanuli), dan H.C. Kruyt ke Karo, dan lain-lain.

Saya bahkan berpendapat bahwa kekristenan di Indonesia adalah buah pelayanan pribadi-pribadi yang dipengaruhi oleh semangat pietisme dan diteruskan oleh para misionari pietisme (yang kurang begitu terikat pada lembaga negara dan gereja dan lebih menekankan aspek individualisme), dan akhirnya diteruskan oleh lembaga gereja bukan oleh negara dan juga bukan oleh gereja negara.

Di kemudian hari, orang-orang Kristen hasil pelayanan misionari pietisme memberikan penilaian kritis terhadap pietisme. Dalam pengamatan saya, paling tidak ada dua aspek yang mendapat penilaian. Satu, pandangan teologis pietisme yang dipandang terlalu vertikalistis atau lebih mengutamakan aspek rohani dan kurang memedulikan aspek sosial kemanusiaan. Kedua, keterlibatan atau pandangan teologis terhadap kolonialisme.  Yang berkaitan dengan kolonialisme ialah anggapan bahwa sebagian misionari pietisme adalah kaki tangan kolonialisme atau pelayanan mereka adalah bagian dari kebijakan pemerintah kolonial.

Apakah patut memberikan penilaian kritis terhadap para misionari pietisme yang telah berjasa memberitakan Injil keselamatan itu kepada orang Indonesia? Saya ingin menyampaikan beberapa pendapat saya tentang penilaian terhadap para perintis Injil ke Indonesia, khususnya kepada suku Karo.

Satu, setiap tindakan pasti didorong oleh beberapa motivasi. Kalau saya pergi ke Buluh Awar maka beberapa motivasi saya ialah untuk melihat tempat istimewa itu, untuk bertemu dengan teman saya di sana, untuk makan durian, untuk rekreasi, dan lain-lain. Kalau orang yang menghormati saya memberikan pandangan tentang kunjungan saya ke Buluh Awar maka mereka akan mengatakan bahwa saya ke Buluh Awar untuk menunjukkan penghormatan terhadap para misionari perintis jalan. Akan tetapi, saya tidak bisa memaksa orang lain mengatakan bahwa tujuan saya ke Buluh Awar hanya untuk mancari sensasi dan popularitas pribadi.

Dua, menilai dengan sikap hormat. Gereja pada rentang waktu 500—1500 disebut dengan dua istilah. Satu, gereja abad pertengahan dan kedua, gereja abad kegelapan. Gereja abad pertengahan adalah sebutan dari gereja sendiri, sedangkan gereja abad kegelapan adalah sebutan dari kaum humanis yang mengecam dominasi gereja terhadap kehidupan. Menurut saya, sebagai anak gereja, kita lebih tepat mengikuti sebutan gereja daripada sebutan kaum humanis antigereja. Dengan menerima sebutan gereja, maka kita sudah menunjukkan sikap hormat kita kepada para perintis jalan Tuhan.  Demikian pula dengan para misionari yang datang ke Karo. Tidak bisa disangkal bahwa mereka memiliki kekurangan dan kelebihan. Akan tetapi, kalau kita menghormati mereka, maka yang kita tonjolkan ialah kelebihan mereka dan kekurangan mereka akan menjadi pelajaran saja untuk tidak diulang kembali dan bukan untuk ditonjolkan.

Tiga, seandainya mereka orangtua kita. Apakah kita bisa kritis terhadap orangtua sendiri? Kalaupun ada, jumlahnya hanya sedikit. Budaya kita mengajarkan supaya kita menghormati orangtua dan tidak menjelek-jelekkan orangtua di depan umum. Salah satu contoh sederhana. Saya menulis riwayat hidup seorang ibu. Ibu ini menceritakan kelemahan suaminya yang adalah kelemahan umum masyarakat Karo. Oleh karena itu, saya pun menuliskan seperti yang dituturkan sang ibu. ketika draft buku dibaca oleh anak-anaknya, maka semua anak-anak protes. Yang mereka kuatirkan ialah timbulnya kesan negatif terhadap ayah yang mereka hormati. Oleh karena itu, bagian itu dihapuskan. Saya kira, begitu jugalah sikap yang tepat ketika kita menilai para perintis jalan Tuhan, para misionari yang datang mengorbankan segala-galanya untuk keselamatan orang Karo.

Empat, penilaian kritis bukanlah budaya orang Timur dan orang Karo melainkan budaya masyarakat Barat. Kita terlatih melihat kelebihan seseorang apalagi bila orang itu adalah orang terhormat atau memiliki kedudukan penting di tengah masyarakat. Ayah saya suka menceritakan kebaikan kakek saya, ayahnya. Saya ingat tentang kerajinan kakek saya. Dari orang lain, saya dengar juga bahwa kakek saya memiliki kebiasaan buruk, tetapi saya tidak menyimpan hal itu di dalam pikiran saya. Menurut saya, cara pandang orang Karo sama seperti ajaran Alkitab. Salah satu contoh. Daud mengatakan bahwa dirinya tidak diizinkan Allah mendirikan Bait Allah karena tangannya penuh darah. Ketika Salomo mengatakan hal yang sama, maka pernyataannya berbeda. Salomo mengatakan bahwa ayahnya tidak mendirikan Bait Allah karena sedang berperang dan banyak musuh-musuhnya. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap orangtua dalam budaya Asia atau Ibrani.

Setelah seratus tahun lebih orang Karo menerima Injil dan Buluh Awar sebagai tempat pertama yang menerima Injil masih sama dengan tempat-tempat lainnya. Jangan-jangan, pengabaian atau yang lebih tepat lagi ‘pembiasaan’ (membiarkannya biasa) terhadap Buluh Awar karena sikap kritis  terhadap para perintis jalan Tuhan tersebut.  Kalau kesan saya ini benar, maka kita harus mengubah pandangan teologis kita. Sesuai dengan ajaran Firman Tuhan dan juga sesuai dengan nilai-nilai budaya Karo, kita patut menghormati para perintis jalan, yaitu para misionari pertama dan sekaligus juga menghormati tempat pertama Injil diberitakan. Mari kita renungkan kembali sikap kita. Supaya panjang umur kita dan berhasil hidup kita, maka kita harus menghormati para perintis jalan, yaitu para misionari pertama dahulu. (esg)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syaloom - Mejuah-juah